Jumat, 24 Februari 2012

Cara Kerja Sederhana Arus DC menjadi AC

Cara Kerja Sederhana Arus DC menjadi AC

 
 
 
 
 
 
i
 
1 Vote
Quantcast
Untuk mengetahui secara sederhana cara merubah arus DC menjadi AC lihatlah gambar berikut.

Bila batang besi “C” digerakkan dengan cepat dari titik “A” ke titik “B” terus menerus. Maka lampu bohlam (220 V 5 Watt) dikeluaran 220 V traffo CT akan menyala.
Nah, bila gerakan itu dengan frekuensi 60 Hz perdetik, maka pada keluaran 220 V traffo CT sama dengan arus AC di rumah kita.
APA YANG TERJADI DI DALAM TRAFFO CT?
Menurut teori, (kira-kira) sebagai berikut:
1. Bila sebatang besi dililitkan kawat dan kawat itu dialiri listrik, maka batang besi akan bermagnet;
2. Bila kita menggerak-gerakan batang magnet pada kumparan, maka pada kutub-kutub kumparan akan mengeluarkan arus listrik;
3. Bila kita mengobah-obah kutub-kutub listrik pada kumparan yang melilit batang besi, maka kutub-kutub magnet pada batang besi akan berobah-obah pula;
4. Berobah-obahnya kutub magnet yang dekat dengan sebuah kumparan, memiliki efek yang sama seperti kita menggerak-gerakkan magnet pada kumparan  itu;
5. Traffo adalah batang besi yang dililitkan kawat secara primer dan sekunder.
7. Jika bagian Sekunder Traffo kita aliri listrik dan Primernya tidak, maka Primernya sebagai kumparan yang terinduksi.
8. Pada Traffo CT 2 x 12 Volt terdapat lilitan kawat yang melilit ‘batang’ besi yaitu lilitan Primer (P) dengan kutub-kutub 0 dan 220 Volt, dan lilitan Skunder (S) dengan kutub-kutub – 12 volt, CT/0, dan + 12 Volt.
Berdasarkan teori itu, bila pada Traffo CT 12 Volt pada lilitan sekundernya (S) secara bergantian pada kutub-kutub – 12 Volt dan + 12 Volt kita pindahkan kutub listrik  negatif (pada misalnya kutub CTnya diberi positif) secara bergantian, maka pada lilitan primer (P) akan mengeluarkan arus induksi. Arus itu adalah arus bolak-balik (AC).

Begitulah kira-kira secara sederhananya. Semoga adik-adik pelajar mengerti cara kerja merobah arus DC menjadi AC.
PESAN untuk adik-adik pelajar: 
Jika kita akan melakukan sebuah eksperimen ilmu pengetahuan, kumpulkan dulu teori-teori terkait dengan rencana eksperimen kita. Dengan begitu, kita akan cukup pengetahuan mewujudkan rencana kita. Juga dapat menghemat banyak pengeluaran biaya yang tak terduga. Dengan kata lain, mengetahui teori-teori yang ada, akan banyak menghemat dari segi waktu, uang, dan tenaga.
Lalu dimana kita akan menemukan teori-teori itu?. Banyak-banyaklah membaca buku (real book atau e-book) sesuai bidang yang kita minati. Dari buku dan internet kita akan menemukan teori-teori yang kita butuhkan.
Mengapa teori begitu penting?
Sebuah teori dibangun oleh ilmuwan yang sudah menguji kebenarannya dan diakui secara universal.
Biasanya teori terbangun dari fenomena yang ada dilingkungan, kemudian seorang ilmuwan berasumsi, asumsi itu selanjutnya didukung teori-teori dari ilmuwan lain dari buku-buku yang ditulis imuwan lain itu, dengan dukungan teori-teori itu sang ilmuwan kemudian membangun hipotesa lalu mengujinya. Dari hasil uji, jika terbukti, maka munculah teori baru atau setidaknya sebuah kesimpulan.
Ilmuwan sejati bukan membuktikan hipotesanya adalah kebenaran, tapi ia akan menguji hipotesanya layak atau tidak disebut sebuah kebenaran.
Teori menjadi penting karena adalah sebuah kebenaran yang telah melalui suatu pengujian ilmiah.
Bila eksperimen kita didukung oleh teori-teori. Maka hasil eksperimen kita adalah berdasarkan kajian ilmiah, dan layak disebut karya ilmiah. Disitulah pentingnya sebuah teori untuk menemukan kebenaran baru atau setidaknya sebuah kesimpulan.
Semoga adik-adik akan menjadi penemu-penemu yang beguna bagi kemanusiaan dan alam.
ada pemasukan lagi dari temen2:
 
Supaya murah maka gunakan Galvanometer dipasang paralel di sekunder (tempat lampu berada). Kalau jarum Galvanometer bergerak berlawanan arah secara bergantian dari titik 0 bersamaan dengan pergantian terminal primer yang terhubung ke baterai, maka terverifikasi atau terkonfirmasi adanya AC.

. Benarkah dibuat rumit? Silahkan disimak berulang-ulang sampai tahu yang lalu dan berikut ini. Lampu pijar tidak mempunyai polaritas tetap, sehingga tidak menunjukkan adanya AC melainkan hanya menunjukkan adanya induksi listrik alias cara kerja induksi listrik. Padahal polaritas AC berganti alias tidak tetap. Sedangkan Galvanometer dan osciloscope mampu menunjukkan adanya induksi listrik dan AC, bahkan osciloscope mampu lebih dari itu. Omong-omong saya hampir lupa bahwa ini untuk SD, sehingga teori IPA nya memang berciri logika cerita.